Selasa, 12 Juli 2011

DIABETES MELITUS PENYAKIT TERTUA

 
Diabetes Melitus (DM) adalah salah satu penyakit tertua pada manusia. Penyakit yang dalam istilah awam kerap disebut "kencing manis" ini disebabkan oleh peningkatan kadar glukosa darah akibat kekurangan insulin, baik yang sifatnya mutlak maupun tidak.
Peranan dan fungsi insulin adalah
sebagai perantara gula (glukosa) yang terserap tubuh untuk masuk dalam sel-sel lemak, jantung, serta otot, untuk kemudian disimpan sebagai kalori. Karena insulin - yang berperan menjadi semacam corong masuknya - tidak bekerja dengan baik, glukosa pun tidak dapat dimetabolisme sehingga menumpuk dalam darah.

Maka, DM sangat erat kaitannya dengan mekanisme pengaturan gula normal. Kisaran gula pada saat kondisi tubuh normal yaitu 70-110 miligram/dl. Sementara hormon insulin yang diproduksi pankreas, walaupun belum pasti, umumnya dapat berkurang karena faktor-faktor seperti asupan lemak berlebih, jarang berolah raga, dan faktor keturunan.

Sayangnya diabetes juga termasuk penyakit yang belum bisa disembuhkan hingga sekarang. Terapi insulin hanya bersifat "menambal", bukan mengobati. Itulah pula sebabnya orang yang sakit diabetes seharusnya tak lagi disebut "penderita", melainkan penyandang diabetes. Sebab penyakit ini akan disandang seumur hidupnya, setidaknya sampai ditemukan obatnya.

Meski begitu, para ahli medis sepakat bahwa DM masih dapat dikendalikan dengan mengontrol gula darah tersebut. Diet gula yang tepat ialah terapi yang baik bagi kesehatan para penyandang diabetes demi memperpanjang kualitas hidup. Kedisiplinan dalam hal ini amat diperlukan. Cek darah untuk memonitor kadar gula pun harus dilakukan secara teratur.

Menurut data WHO, jumlah penyandang diabetes di Indonesia merupakan yang terbanyak setelah China, India, dan Amerika Serikat. Gejala DM pada level paling kronis adalah rusaknya jaringan saraf, pembuluh darah pada kaki, gangrene (infeksi berat pada kaki hingga membusuk), disfungsi ginjal, kebutaan, atau impotensi. Juga mungkin dapat menyebabkan kematian, akibat komplikasi.
[Selvia Chang, Gorontalo]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar