Minggu, 02 Oktober 2011

KI SABDHO SUTEDJO, DALANG TIONGHOA

 
Tee Boen Liong alias Ki Sabdho Sutedjo saat bermain di Gereja St Albertus De Trapani. Ia  menjadi salah satu dari sedikit dalang berdarah Tionghoa di Jawa.


PROFESI dalang bukanlah profesi yang mudah untuk ditekuni dan diseriusi. Tata bahasa Jawa yang apik berpadu dengan olah vokal ciamik serta kecekatan memainkan wayang kulit menjadi kriteria utama untuk menilai kemampuan seorang dalang.

Profesi ini ternyata dipilih sebagai sandaran hidup oleh Tee Boen Liong. Lantas bagaimana kisah Tee Boen Liong berjuang di profesi ini?

Sebuah panggung wayang lengkap dengan kelir pada bagian depan terhampar rapi di halaman Gereja St Albertus De Trapani, Blimbing, hari Selasa malam (6/9) lalu. Tepat dihadapan layar, duduk seorang dalang dengan mengenakan baju kuning, blangkon dan sebuah keris diselipkan pada pinggang belakangnya.

Seperti lazimnya, dalang ini duduk membelakangi penonton sambil memainkan deret wayang kulit dan bercerita dalam bahasa Jawa halus tentang kisah Wahyu Makutoromo. Pada sebuah banner di bagian belakang panggung wayang tersebut nama sang dalang adalah Ki Sabdho Sutedjo atau Tee Boen Liong.

"Lakon Wahyu Makutoromo menceritakan tentang turunnya 8 wahyu pada sang pemimpin terpilih, yaitu Arjuna dari Prabu Kresno," ujar Tee Boen Liong  kepada Malang Post.  Tutur katanya halus, logat Jawanya bahkan terasa lebih halus mengingat pria berusia 46 tahun ini lahir dan besar dari daerah Kapasan, Surabaya.

Baginya, menjadi seorang dalang seolah sudah jadi panggilan jiwa sejak dirinya lahir hingga saat ini. Tee merasa beruntung dilahirkan menjadi seorang cucu dari Jie Sik Po, pemiliki wayang orang Wargo Budoyo yang cukup tenar di sekitar tahun 70-an.

" Sejak bayi saya sudah akrab dengan gamelan. Sampai umur dua tahun ibu saya selalu membawa saya saat menjaga loket tiket wayang orang," urai pria yang menggemari tokoh wayang Gatot Kaca ini.

Beranjak dewasa area bermain yang dipilih adalah bengkel kerja sang kakek, wayang orang Wargo Budoyo. Setiap kali seusai melihat pertunjukan wayang orang, Tee kecil akan mengulang dialog yang didengarnya sambil memainkan wayang karton tanpa naskah. Saking gemarnya mengumpulkan wayang kartun baru, Tee selalu diingat oleh si penjual wayang karton jika ada tokoh wayang yang baru. "Penjual wayang  yang sering lewat depan rumah sampai disiram air oleh kakek. Katanya arek cilik ojok diduduhi wayang tok ae (Katanya, anak kecil jangan ditunjuki wayang saja,red),'' kata Tee mengenang masa kecilnya dengan sang kakek.

Kegemarannya memainkan wayang karton akhirnya berujung pada kepercayaan sang kakek untuk melepasnya bermain wayang kulit pertama kali di usia 10 tahun dengan lakon Wahyu Cakraningrat, saat peringatan 17 Agustus di kampungnya. Kemampuannya bermain terus terasah dan mampu menghasilkan prestasi saat terpilih sebagai Juara 1 Dalang Bocah se Jawa Timur tahun 1978 lewat lakon Babad Wanamarta.

Keberaniannya untuk terus memainkan wayang kulit ternyata menarik perhatian dalang legendaris Ki Nartosabdho asal Klaten, Jawa Tengah. Tee pun menjadi pendalang Tionghoa yang beruntung sebab sempat menjadi siswa didik Ki Nartosabdho menjelang tutup usia di tahun 1985.

"Saya rutin belajar beberapa bulan sekali antara Surabaya-Semarang. Beliau mau menerima saya sebagai murid karena saya adalah orang Tionghoa yang mau mendalang. Beliau juga mengangkat saya sebagai anaknya dan memberikan nama Sabdho Sutedjo untuk saya," imbuh Tee.

Jam terbangnya sebagai dalang semakin terasah berdampingan dengan tugasnya berlajar dan mematuhi orang tua sebagai seorang anak. Sebagai putra pertama dari enam bersaudara orang tua Tee menginginkan putranya ulung dalam hal perdagangan dan berkecimpung didunia bisnis, dunia yang dikuasai benar oleh etnis Tionghoa. Maka keinginan untuk kuliah dijurusan kesenian harus kandas berganti jurusan akuntansi, keinginan untuk total berprofesi sebagai Dalang juga harus diurungkan dan berganti dengan profesi Manajer Keuangan dibeberapa perusahaan yang tergolong besar.

"Tiga tahun saya sempat mencoba bekerja menjadi karyawan, pernah jadi manager di Xerox, pernah juga di makanan ternak PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA), tapi memang dunia saya bukan disitu. Karena orang tua melihat sendiri dan dalang saya juga cukup menghasilkan maka mereka akhirnya merelakan saya terjun di dunia seni sampai sekarang," ujarnya.

Hingga kini namanya mulai dikenal diantara beberapa nama besar lain seperti Ki Entus Susmono dan menyusul nama besar lain seperti Ki Manteb Soedharsono.

Sebagai dalang lelaku tirakatan juga masih tetap dilakukan walaupun tidak rutin. Puasa Senin-Kamis, Puasa Pati Geni dan juga sikap tetap sabar berbaur menjadi satu dengan kepercayaannya sebagai umat Katolik. "Kadang-kadang masih puasa, yang jelas harus bisa terus sabar, tidak gampang emosi dan latihan vokal dengan rutin," pungkasnya.
[Windi Chen, Malang]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar