Senin, 08 Mei 2023

2305081. Seorang putri yang berhati emas.

Alkisah, seorang bapak (orangtua tunggal) tidak pernah memberi tahu putrinya tentang pekerjaannya sebagai petugas pembuang sampah, pembersih saluran pembuangan kota. Sang Bapak tidak ingin putrinya merasa malu terhadapnya. Setiap kali putrinya bertanya tentang pekerjaannya, sang bapak mengatakan kepadanya bahwa dia bekerja di kantor. Setiap hari keluar rumah memakai baju kemeja berdasi, dimana dia mengganti pakaian oranyenya sebelum memulai pekerjaannya sebagai petugas kebersihan. Setiap malam, sang bapak mandi di kamar mandi umum, sebelum pulang ke rumah setiap hari, dan memakai kembali kemeja berdasinya sehingga putrinya tidak tahu. 

Sang Bapak berharap putrinya bisa pergi ke sekolah dengan hati yang senang, dihormati sehingga dapat memperoleh pendidikan yang baik. Dari muda, sang Bapak tidak pernah merasa dihormati, selalu dipermalukan karena tidak berpendidikan. Sang Bapak tidak ingin itu terjadi pada putrinya, maka sang Bapak bekerja siang dan malam untuk menyekolahkan putrinya, agar dapat memiliki baju sekolah dan buku-buku barunya setiap tahun (bahkan sang Bapak tidak membeli baju baru setiap tahun). Sang bapak juga tidak pernah mengunjungi pertemuan-pertemuan guru - orang tua, karena dia hanya seorang pembersih biasanya tidak akan cocok dengan orang tua murid" lainnya.

Alkisah, waktu terus bergerak, putrinya tumbuh dewasa dan saatnya dia mendaftar dan akhirnya dia diterima di universitas. Namun sehari sebelum putrinya mendaftarkan dirinya sebagai calon mahasiswi, sang bapak menghitung semua tabungannya, ternyata masih kurang untuk membayar semua biaya uang kuliahnya. Hati sang bapak merasa hancur, karena tidak punya kerabat, tidak dapat pinjaman, sehingga kemungkinan tidak bisa mengirim putrinya ke universitas. Pada hari itu, sang bapak pergi bekerja tetapi tidak bisa berkonsentrasi lalu dia duduk di pojok tempat pembuangan sampah dan menangis di pojokan. Sementara rekan" kerjanya terus bekerja dan tidak berbicara kepadanya.

Ketika hari sudah sore (sudah waktunya) bagi sang bapak untuk kembali ke rumah, namun dia tidak tahu harus berkata apa kepada putrinya bila kembali ke rumah. Saat kepulangan, semua rekan kerja sang bapak berkumpul di depannya lalu bertanya kepadanya, "Apakah Anda menganggap kami sebagai saudara Anda?"
Sang bapak terdiam, tidak tahu harus menjawab apa.
Sebelum sang bapak menjawab, mereka menyerahkan penghasilan harian mereka kepada sang bapak, sambil berkata, "Putrimu adalah putri kita. Dia harus kuliah karena dia pandai. Kita bisa kelaparan untuk satu hari, tapi kita tidak bisa melihat impian putri kita dihancurkan." Air mata mengalir di wajah sang bapak, ketika menerima uang dari para sahabat"nya. Keharuannya membuat sang bapak tidak mandi hari itu lalu pulang ke rumah dengan pakaian kotornya.

"Apa yang terjadi padamu?" tanya putrinya. Sang bapak mengungkapkan pekerjaan ayahnya yang sebenarnya. Mendengar pengorbanan ayahnya dan teman"nya, putrinya memeluk sang ayahnya dan menangis.

Alkisah, belasan tahun kemudian, putrinya telah menjadi insinyur dan memiliki pekerjaan yang bagus. Dia tidak pernah menyembunyikan dari siapa pun tentang fakta bahwa ayahnya adalah seorang mantan pembersih. Bahkan dia menceritakannya kepada semua orang dengan bangga. Setiap minggu, dia bahkan mengunjungi tempat ayahnya pernah bekerja dan memberi makan mantan rekan kerja ayahnya.

Alkisah, suatu hari, salah satu dari mereka bertanya kepadanya mengapa dia melakukan itu. Dia menjawab, "Kalian pernah kelaparan untukku satu hari, aku berdoa kepada Tuhan agar aku bisa memberi kalian makan sekali setiap minggu." Saat itu sang ayah menyadari 1 hal bahwa hati sang ayah tidak pernah miskin, karena dia memiliki seorang putri yang berhati emas.

#


Seorang putri yang berhati emas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar