Minggu, 06 September 2026

2609071. Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal-Ku serta mendengar suara-Ku.

Senin Pekan Biasa XXIII, 07 Sep 2026
Warna Liturgi: Hijau
Bacaan I: 1Kor 5:1-8
Mazmur Tanggapan: Mzm 5:5-6.7.12
Bait Pengantar Injil: Yoh 10:27
Bacaan Injil: Luk 6:6-11




Tergetar hatiku saat membaca surat Pertama Rasul Paulus
kepada Jemaat di Korintus,
tentang jangan menyombongkan diri, diantaranya karena berbuat cabul begitu rupa.
Perbuatan / Ragi yang sedikit ini dapat meresapi seluruh adonan.
Maka buanglah ragi yang lama,
supaya menjadi adonan yang baru,
yang tidak beragi.
Marilah kita berpesta, dengan roti yang tidak beragi,
yaitu kemurnian dan kebenaran.
Sebab Kristus, Anak Domba Paskah kita sudah disembelih.


Ini menyadarkan saya bahwa tidak benar pikiran berbuat salah sedikit, tidak apa-apa, karena daging/ manusia lemah dan Tuhan Maha Rahim, tetapi berusahalah hidup suci bersama Tuhan.


Dan saya seringkali berpikir perlu menghormati hari Sabat/ lainnya jadi menunda pekerjaan baik. Saya membayangkan mungkin saya seperti Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi yang mengamat-amati Yesus,
kalau-kalau Ia menyembuhkan orang pada hari Sabat,
agar mendapat alasan untuk menyalahkan-Nya.

Yesus mengetahui pikiran mereka (saya).
Ia berkata kepada orang yang mati tangannya,
"Bangunlah dan berdirilah di tengah!"
Maka bangunlah orang itu dan berdiri di tengah.

Lalu Yesus berkata kepada mereka (termasuk saya),
"Aku bertanya kepada kalian:
Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat,
berbuat baik atau berbuat jahat?
Menyelamatkan orang atau membinasakannya?"


Sesudah itu Ia memandang keliling kepada mereka semua (termasuk saya),
lalu berkata kepada orang sakit itu, "Ulurkanlah tanganmu!"
Orang itu mengulurkan tangannya dan sembuhlah ia.

Maka meluaplah amarah ahli-ahli Taurat dan orang Farisi (mungkin termasuk saya karena pikiran dan hati yang sempit).
Lalu mereka (termasuk saya) berunding,
apakah yang akan mereka (saya) lakukan terhadap Yesus (Orang hebat yang baik hati).


Saya merenung, seringkali ketidakmampuan / keterbatasan pikiran bisa membuat keputusan yang salah.



*Ya Tuhan Allahku...
Bimbinglah aku dalam keadilan-Mu.
Engkau tidak berkenan akan kefasikanku.

Engkau benci terhadap kejahatanku.

Engkau jijik melihat penipuanku.

*Aku mau berlindung pada-Mu.
Berkenanlah Engkau menaungi daku.
Aju bersukaria dan mengasihi nama-Mu.
Aku bersukaria karena kasih-Mu.

Amin.


#




Uploaded Image

Tidak ada komentar:

Posting Komentar