*Kisah seorang putri yang meninggalkan beasiswa Harvard untuk merawat ayahnya yang stroke di kampung—mengajarkan bahwa "Mari ikutlah Aku" kadang berarti meninggalkan "jala emas" dan membawa terang ke dalam kegelapan keluarga yang hancur.*
*Maria (25 tahun)* baru diterima beasiswa S2 full di Harvard University—impian semua orang. Total nilai 2 miliar rupiah. Keluarganya di Flores bangga luar biasa.
Tapi sebulan sebelum berangkat, *Papanya (52 tahun)* stroke berat. Lumpuh total. Mamanya meninggal 5 tahun lalu, jadi tidak ada yang urus Papa.
Kakaknya *Andreas (28 tahun)* sudah berkeluarga dan kerja di Jakarta. "Maria, aku tidak bisa pulang. Aku harus kerja. Kamu kan belum nikah, kamu yang urus Papa."
"Tapi Kak, aku ada beasiswa Harvard! Ini kesempatan sekali seumur hidup !" protes Maria.
"Maria, Papa lebih penting dari Harvard !. Kamu egois !" bentak Andreas.
Maria bingung.
Ia berdoa berhari-hari. "Tuhan, apa yang harus aku lakukan ?"
Dalam doa, ia teringat Injil Matius: Yesus memanggil Simon dan Andreas yang sedang menebarkan jala. "Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia." Mereka segera meninggalkan jala mereka.
"Harvard adalah 'jala emas'ku," bisik Maria. "Tapi Tuhan memanggil aku pulang untuk Papa."
Maria mengumumkan keputusannya: ia tolak beasiswa Harvard dan pulang kampung urus Papa.
Keluarga besar marah. "Maria gila !. Membuang 2 miliar dan Harvard untuk urus orang tua yang sudah tua !. Egois !".
Teman-temannya shock. "Maria, kamu bisa sewa caregiver (pengasuh)! Jangan buang masa depanmu!"
Tapi Maria tenang. "Yesus berkata 'Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat.' Aku harus bertobat dari egoisku—mengejar karir dan melupakan Papa."
Ia pulang kampung. 2 tahun merawat Papa—memandikan, menyuapi, mengajak bicara meski Papa tidak bisa jawab.
Tapi sesuatu ajaib terjadi. Kampung yang dulu gelap—banyak anak putus sekolah, pemuda mabuk—mulai berubah karena Maria.
Setiap sore, setelah urus Papa, Maria mengajar anak-anak kampung gratis. Ia ajari mereka bahasa Inggris, matematika, bahkan coding. 50 anak yang dulu putus asa kini punya harapan.
Maria juga mulai program kesehatan gratis—cek tekanan darah, gula darah, edukasi stroke untuk orang tua. Ratusan keluarga terbantu.
Yang paling mengharukan: Papa Maria—yang lumpuh—mulai tersenyum melihat putrinya melayani. Dan perlahan, Papa pulih. Setahun kemudian, Papa bisa bicara lagi. 18 bulan kemudian, Papa bisa jalan dengan walker.
"Maria," bisik Papa dengan air mata, "Maafkan Papa. Kamu korbankan Harvard untuk Papa."
Maria memeluk Papanya. "Papa, aku tidak korbankan apa-apa. Aku dapat yang lebih berharga: Papa pulih, dan kampung kita jadi terang."
2 tahun kemudian, program Maria jadi perhatian nasional. Kementerian Pendidikan datang, lalu UNESCO, lalu bahkan... Harvard.
Profesor dari Harvard datang ke kampung Maria. "Maria, kami dengar apa yang kamu lakukan. Kami tawarkan kamu beasiswa lagi—tapi kali ini untuk program Ph.D. Community Development. Kamu bisa research (meneliti) di kampungmu sendiri."
Maria tersenyum. "Terima kasih, Professor. Tapi saya harus tanya Papa dan komunitas saya dulu."
Papa, yang sudah bisa jalan, berkata dengan bangga, "Maria, pergilah. Kamu sudah bawa terang ke kampung ini. Sekarang bawa terang ke dunia."
Komunitas kampung membuat surat dukungan: "Maria mengajarkan kami: meninggalkan 'jala emas' untuk mengikut panggilan bukan pengorbanan, tapi penemuan harta yang lebih berharga."
Andreas, kakaknya yang dulu marah, datang dengan menangis. "Maria, maafkan aku. Aku yang egois. Kamu meninggalkan Harvard dan membawa terang bagi Papa dan kampung kita. Kamu mengajarkan aku arti 'ikutlah Aku'—bukan mengejar karir, tapi mengikut panggilan."
Maria akhirnya ke Harvard untuk Ph.D.—tapi dengan Papa yang pulih, kampung yang berubah, dan hati yang penuh syukur.
"Injil Matius mencatat: Yesus berkeliling mengajar, memberitakan Injil, menyembuhkan. Aku belajar: ikut Dia bukan duduk di kelas teologi, tapi turun ke kegelapan—keluarga yang hancur, kampung yang putus asa—dan bawa terang," kata Maria dalam wisudanya di Harvard 4 tahun kemudian.
Dan semua belajar: "Mari ikutlah Aku" kadang berarti meninggalkan "jala emas"—tapi yang kita dapat jauh lebih berharga: terang bagi yang dalam kegelapan.
Seperti nubuat Yesaya "Bangsa yang berjalan dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar" (Yesaya 9:1).
Maria membawa terang bagi kampung yang kegelapan.