Senin, 23 Mar 2026.
Kecantikan selalu membawa pesona.
Kecantikan diharapkan membawa sukacita.
Kecantikan bisa membawa dukacita.
Kecantikan mengundang setiap mata.
*Fitnah itu kejam bisa membunuh orang tanpa senjata tajam karena fitnah dapat membunuh jiwa & tubuh. Fitnah/ tuduhan/ pernyataan palsu bisa merusak reputasi & merugikan serta merusak masa depan seseorang. Fitnah bisa berupa kata-kata/ tulisan/ tindakan yang membuat orang beropini buruk tentang seseorang yang benar.
*Alkisah Susana, isteri Yoyakim yang amat sangat cantik dan taat beribadah, karena orang tuanya (Hilkia) mendidik Susana dengan benar. Yoyakim itu pengusaha amat kaya dan terhormat serta dermawan di kotanya, maka orang-orang biasa berkumpul & makan pagi (sejenis dimsum) di rumahnya hingga menjelang tengah hari.
Yoyakim memiliki sebuah taman yang luas di sebelah rumahnya, dimana Susana yang amat sangat cantik sering berjalan-jalan dan mandi di kolam renang disitu.
Pada suatu sore hari saat cuaca panas, Susana disertai dua orang asistennya masuk dan berjalan-jalan di situ, Kata Susana kepada kedua asistennya,
"Ambilkanlah aku minyak dan body lotion, dan tutuplah pintu taman, supaya aku dapat mandi."
Setelah kedua asistennya itu keluar, turunlah kedua orang tua-tua yang bersembunyi di atas pohon sambil mengintip Susana (setiap hari mereka mengintip maka timbullah nafsu birahi kedua orang tua-tua itu kepada Susana), lalu segera menyapa Susana, katanya,
"Pintu-pintu taman sudah tertutup
dan tidak ada seorangpun melihat kita. Kami sangat birahi kepadamu.
Tidurlah bersama-sama kami.
Kalau engkau tidak mau, pasti kami akan bersaksi terhadapmu, bahwa seorang pemuda kedapatan padamu, sehingga kedua asisten itu kausuruh pergi."
Susana mendesah & menarik nafas panjang lalu berkata,
"Aku terdesak, bagaikan buah simakalama sekarang. Sebab jika hal itu kulakukan, niscaya dosa menantiku. Jika tidak kulakukan, maka aku tidak lolos dari tangan kamu. Namun lebih baik aku jatuh ke tanganmu dengan tidak berbuat demikian, daripada berbuat dosa."
Lalu Susana berteriak-teriak dengan suara nyaring.
Tetapi kedua orang tua-tua itu berteriak-teriak pula
melawan Susana, dan lari membuka pintu taman.
Teriakan di taman itu didengar orang-orang yang ada di dalam rumah, segeralah mereka datang untuk melihat apa yang terjadi.
Setelah kedua orang tua-tua itu memberikan keterangan, maka amat malulah para asisten, sebab belum pernah ada gosip tentang Susana.
Keesokan harinya, ketika orang-orang berkumpul lagi di rumah Yoyakim, suami Susana, datang pulalah kedua orang tua-tua itu dengan penuh angan-angan untuk membunuh Susana (karena ditolak), lalu berkata,
"Panggillah Susana, anak Hilkia, isteri Yoyakim!"
Maka datanglah Susana, disertai orang tuanya, anak-anak dan kaum kerabatnya dengan menangis.
Sementara kedua orang tua-tua itu berdiri di tengah orang banyak dan meletakkan tangan mereka di atas kepala Susana (Susana menengadah ke atas sambil menangis, sebab hatinya tetap percaya pada Tuhan).
Maka kata kedua orang tua-tua itu,
"Sedang kami berdua berjalan-jalan di taman, masuklah Susana bersama dua asistennya. Lalu pintu taman itu ditutup, dan disuruhnya kedua asisten itu pergi.
Lalu datanglah seorang pemuda yang bersembunyi di situ dan ia bermesraan bersama Susana.
Ketika kami yang ada di sudut taman, melihat adegan itu, berlarilah kami kepada mereka. Walaupun kami melihat mereka tidur bersama-sama di sana, namun kami tidak dapat menangkap pemuda itu karena ia lebih kuat dari kami.
Ia membuka pintu lalu melarikan diri. Tetapi Susana kami tahan dan kami menanyakan siapa pemuda itu. Ia tidak mau memberitahu kami. Inilah kesaksian kami."
Orang banyak percaya akan kesaksian mereka, karena mereka adalah orang tua-tua dan hakim. Atas dasar kesaksian itu, dijatuhkannya hukuman mati kepada Susana.
Maka berserulah Susana dengan suara nyaring,
"Allah yang kekal, yang mengetahui apa yang tersembunyi, dan mengenal sesuatu sebelum terjadi.
Engkau tahu bahwa mereka itu memberikan kesaksian palsu terhadapku. Sungguh, aku akan mati tanpa melakukan sesuatu pun dari yang mereka dustakan tentang aku."
Tuhan mendengarkan suaranya.
Ketika Susana dibawa keluar untuk dihabisi nyawanya, Allah membangkitkan roh suci Daniel muda yang tiba-tiba berseru dengan suara nyaring,
"Aku tidak bersalah terhadap darah perempuan itu!"
Lalu Daniel berdiri dan berkata di tengah-tengah para tua-tua, "Demikian bodohkah kamu, adakah kamu menghukum seorang puteri tanpa pemeriksaan dan tanpa bukti? Kembalilah ke tempat pengadilan, sebab kedua orang itu memberikan kesaksian palsu terhadap perempuan ini!"
Maka bergegaslah rakyat kembali ke tempat pengadilan.
Orang tua-tua berkata kepada Daniel,
"Kemarilah, duduklah di tengah-tengah kami dan beritahulah kami, sebab Allah telah menganugerahkan kepadamu martabat orang tua-tua."_
Lalu Daniel berkata kepada orang yang ada di situ,
"Pisahkanlah kedua orang tua-tua tadi jauh-jauh, karena mereka akan diperiksa."
Setelah mereka dipisahkan satu sama lain,
Daniel memanggil seorang di antara mereka dan berkata kepadanya,
"Jikalau engkau sungguh-sungguh melihatnya, katakanlah: Di bawah pohon apakah telah kaulihat mereka bercampur?"
Sahut orang tua itu, "Di bawah pohon mangga!"
Kembali Daniel berkata,
"Baguslah engkau mendustai kepalamu sendiri! Sebab malaikat Allah telah menerima firman dari Allah untuk membelahmu!"
Setelah orang itu disuruh pergi,
Danielpun lalu menyuruh bawa yang lain kepadanya.
Kemudian berkatalah Daniel kepada orang kedua itu,
"Kecantikan telah menyesatkanmu dan nafsu berahi telah membengkokkan hatimu. Oleh karena itu katakanlah kepadaku:
Di bawah pohon apakah telah kaudapati mereka bercampur?"
Sahut orang tua kedua itu,
"Di bawah pohon beringin!"
Kembali Daniel berkata,
"Baguslah engkau mendustai kepalamu sendiri.
Sebab malaikat Allah sudah menunggu-nunggu
dengan pedang terhunus untukmu, supaya engkau binasa!"
Maka berserulah seluruh orang banyak dengan suara nyaring memuji Allah yang menyelamatkan yang berharap kepada-Nya.
Serentak mereka bangkit melawan kedua orang tua-tua itu,
sebab Daniel telah membuktikan dengan mulut mereka sendiri yang bersaksi palsu.
Lalu mereka diperlakukan sesuai hukum kota dan perkataan mereka sendiri, kedua orang itu dibunuh.
Demikian pada hari itu diselamatkan darah Susana yang amat sangat cantik dan taat beribadah karena tak bersalah.
#
Tidak ada komentar:
Posting Komentar